SELF LEARNING INSTITUTE

The Institute For Human Potential

Sekolah SMP Ekologi Purwakarta, Pendidikan yang Melestarikan Budaya Bercocok Tanam Sejak Dini Warisan Tradisi Leluhur

Sekolah Ekologi
Sekolah Ekologi

POJOKJABAR.com, PURWAKARTA – Negara kita memiliki beraneka ragam kekayaan budaya yang tersebar diseluruh pelosok negeri ini, kemudian juga kekayaan alam yang melimpah ruah baik didarat dan dilaut semua tersedia. Semuanya tinggal di lestarikan dan dikelola dengan baik.

Pengelolaan sumber daya alam dengan baik dan benar, merupakan salah satu prioritas utama yang mesti diperhatikan semua kalangan termasuk oleh negara. Karena semakin lama populasi penduduk semakin meningkat dan terus bertambah, sehingga sumber daya alam yang melimpah sekalipun kalau tidak dikelola dengan baik akan cepat habis.

Populasi penduduk yang terus meningkat setiap tahunya, mengakibatkan kebutuhan pangan terutama bahan pokok dapat dipastikan bertambah. Bila kebutuhan pangan terutama bahan pokok tidak tercukupi, berimbas kepada keberlangsungan hidup penduduk. Dampaknya, budaya yang mestinya harus di lestarikan akan tergerus oleh keadaan demi untuk tetap bertahan hidup.

Salah satu budaya yang turun menurun dari nenek moyang bangsa ini yaitu bercocok tanam, salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mempertahankan kebudayaan yang sudah menjadi tradisi bangsa ini.

Upaya untuk melestarikan budaya bercocok tanam sekaligus untuk memenuhi akan kebutuhan pokok, Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta melakukan inovasi di era rovolusi industri 4.0. dengan memproyeksikan sekolah ekologi untuk meracik siswa menghadapi
kemandirian pangan di masa depan.

“Sekolah ekologi, nantinya akan menjadi proyek transformasi pendidikan di era revolusi industri 4.0.” demikian hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Purwakarta, H. Dr. Purwanto, MPd. Saat berbincang santai usai melakukan panen padi bareng para siswa dan siswi SMP Ekologi Kahuripan (SMPN 10) Purwakarta.

Sekolah SMPN 10 merupakan salah satu sekolah percontohan atau pilot project pendidikan yang berbasis ekologi, sehingga para tenaga pendidik harus memiliki wawasan tentang ekologi untuk kemudian di ajarkan kepada para siswa.

“Pemenuhan pangan setiap tahunnya terus meningkat, sehingga perlu inovasi baru untuk membangkitkan semangat generasi muda dalam bercocok tanam atau bertani,” tambah Purwanto, yang memiliki mimpi para anak muda turun bertani dengan teknologi yang mumpuni.

Sehingga perlu sarana dan prasarana untuk menujang minat para siswa dalam belajar ekologi sejak dini, terutama lahan yang memadai untuk bercocok tanam baik itu berupa kebun maupun sawah.

“Namanya sekolahnya ekologi kahuripan atau SMPN 10 Purwakarta, siswa dan siswi diajarkan sejak dini untuk melakukan bercocok tanam. Sekaligus juga cara merawat, memerlihara tanaman. Hingga sampai memanen hasil dari para siswa siswi bercocok tanam,” kata Purwanto menerangkan, konsep pendidikan berbasis ekologi untuk mempertahankan budaya bercocok tanam yang merupakan warisan leluhur nenek moyang bangsa ini.

Salah satu siswi kelas VIII tampak sudah sangat cekatan cara memanen padi yang sudah menguning, walaupun memanennya masih dengan cara tradisional yaitu menggunakan sabit, dengan cara diarit siswi tersebut seolah sudah terbiasa.

“Senang bisa memanen hasil bercocok tanam sendiri. Karena dari mulai menanam, merawat, memupuk hingga saat ini di panen, semuanya hasil kerja keras para siswa yang didampingi oleh para guru pembimbing. Setelah memberikan pendidikan teori, kemudian kita langsung praktekan dilahan yang sudah disediakan dibimbing langsung guru pembimbing. Jadi kita memiliki kebanggaan dan kepuasan tersendiri, hari yang dinanti-nantikan yaitu saat panen raya,” kata, Eka siswi ekologi kahuripan kelas VIII.

Pendidikan ekologi yang diterapkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, merupakan salah satu upaya untuk melestarikan budaya-budaya peninggalan nenek moyang terdahulu yaitu mengajarkan kepada siswa untuk bercocok tanam (bertani). Salah satu warisan leluhur yang harus dijaga dengan baik yaitu bercocok tanam, untuk memenuhi kebutuhan pangan populasi penduduk yang kian meningkat. (Adw/pojokjabar)

Terbaru

Scroll to Top