Purwakarta, 23 Agustus 2025 — Self Learning Institute (SLI) kembali memfasilitasi kegiatan Upgrading Tim Pengembang Tatanén di Bale Atikan (TdBA) yang diperuntukkan bagi jenjang PAUD, SD, dan SMP. Pada hari ketiga, kegiatan berlangsung penuh semangat dengan menggabungkan latihan kesadaran diri dan praktik langsung pengelolaan lingkungan.
Kegiatan diawali dengan sesi Mindful Walking atau berjalan dengan penuh kesadaran yang merupakan salah satu praktik mindfulness di mana seseorang berjalan sambil memperhatikan setiap langkah, gerakan tubuh, pernapasan, dan sensasi yang muncul saat berjalan. Tujuannya bukan sekadar berpindah tempat, melainkan menjadikan setiap langkah sebagai kesempatan untuk hadir penuh (present moment) dan menyadari hubungan antara tubuh, pikiran, serta lingkungan sekitar. Mindful Walking ini dipandu oleh Rizky Agung Prakoso, salah satu fasilitator dari SLI.

Usai sesi mindfulness, suasana berubah lebih dinamis. Muhammad Noor Fikri, fasilitator dari Self Learning Institute (SLI), mengajak peserta menuju lahan praktik dan mendampingi peserta dalam praktik untuk membuat berbagai infrastruktur ekologis, antara lain bioswale, rain garden, banana circle, bedengan/mandala, biopori, hingga pembuatan biocompound. Peserta dibagi menjadi enam kelompok berdasarkan jenis praktik yang dilakukan:
- Kelompok Bioswale – membuat saluran resapan air hujan dengan vegetasi penyaring.
- Kelompok Rain Garden – merancang taman serapan yang indah sekaligus fungsional.
- Kelompok Banana Circle – menanam pisang dalam pola melingkar untuk mengolah sampah organik.
- Kelompok Bedengan/Mandala – membuat pola tanam berbentuk mandala atau bedengan.
- Kelompok Biopori – membuat lubang-lubang kecil untuk memperbaiki infiltrasi tanah.
- Kelompok Biocompound – mengolah bahan organik menjadi pupuk alami.
Setiap kelompok dipandu langkah demi langkah, dari menggali tanah, menata tanaman, hingga memahami manfaat ekologis dari praktik tersebut. Suasana terasa sangat riuh penuh semangat: ada yang serius mencangkul, ada yang bercanda soal bentuk mandala, hingga ada yang sibuk menyaring krikil sambil berdiskusi.

Dalam penjelasannya, Muhammad Noor Fikri menekankan pentingnya bioswale sebagai upaya sederhana namun efektif untuk mengelola air hujan.
“Bioswale bisa membantu menampung, memperlambat aliran, sekaligus menyaring air hujan sebelum masuk ke saluran. Selain mencegah genangan, bioswale juga menambah ruang hijau yang bermanfaat untuk ekosistem lingkungan,” ungkapnya.

Hari ketiga Upgrading Tim Pengembang TdBA ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal pengetahuan kognitif, melainkan juga keterampilan hidup dan sikap peduli terhadap bumi. Melalui Tatanén di Bale Atikan, para guru diajak menyatu dengan alam, belajar langsung dari tanah, air, dan tanaman, lalu menularkannya kepada murid-murid mereka.

Dengan adanya Upgrading Tim Pengembang TdBA ini, SLI berharap para pendidik tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara nyata di sekolah. TdBA diharapkan menjadi model pembelajaran yang holistik, mengajarkan pengetahuan, keterampilan, sekaligus karakter peduli lingkungan bagi generasi muda.