SELF LEARNING INSTITUTE

The Institute For Human Potential

PUP Program Berbasis ‘Tatanen di Bale Atikan, Berbanding Lurus dengan Kebijakan Kemendikbud ‘HOTS’

SLI dan PGRI
SLI dan PGRI

POJOKJABAR.com, PURWAKARTA – Dalam peningkatan berbagai hal dijaman serba cepat diabad ke 21 ini, perlu sebuah terobosan yang terstruktur dan terukur agar kita bisa mengimbangi kecepatan modernisasi tanpa meninggalkan kultur budaya bangsa ini.

Menyikapi hal itu, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Purwakarta sebagai wadah organisasi para pengajar (Guru), yang merupakan garis terdepan sebagai pencerdas anak bangsa turut sukseskan program ‘Tatanen di Bale Atikan’.

Salah satunya PGRI Kabupaten Purwakarta selenggarakan Pelatihan Untuk Pelatih (PUP) yang bertemakan “Peningkatan Kompetensi Abad 21 berbasis Tatanen di Bale Atikan”.

Demikian hal itu disampaikan ketua PGRI Purwakarta, Dr.H. Purwanto, M.Pd, saat usai memberikan sambutan pada acara PUP tersebut.

“PGRI menggandeng Self Learning Istitute untuk bekerjasama dalam kegiatan ini,” kata Purwanto, mengawali pembicaraan.

Pelatihan Untuk Pelatih (PUP) ini diharapkan nanti sebagai ujung tombak sebagai tenaga pelatih profesional, dalam mengembangkan pendidikan berkarakter pada program Tatanen di Bale Atikan.

“Pendidikan berkarakter dengan program Tatanen di Bale Atikan ini, berbanding lurus dengan kebijakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang dikenal dengan HOTS (Higher Order Thinking Skills),” tambah Purwanto.

Para peserta yang mengikuti PUP dari hasil seleksi secara terbuka, sehingga didapatkanlah 50 orang peserta. Dari 50 orang peserta ini dari beragam profesi dan juga latar pendidikan yang berbeda.

“Ada guru, pengusaha, penggiat lingkungan, mahasiswa bahkan hingga dosen perguruan tinggi. Pendidikannyapun beragam dari tamatan SMA, Sarjana hingga yang bergelar Doktor,” beber Purwanto, memberitahukan beragam latar belakang dari para peserta.

Para peserta pelatihan yang dinyatakan lulus akan mendapatkan lisensi berupa sertifikat sebagai tenaga pelatih profesional pada program Tatanen di Bale Atikan.

Dengan demikian para pemegang sertifikat tersebut dapat diundang menjadi narasumber/pelatih, dalam berbagai pelatihan program Tatanén di Balé Atikan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan se Kabupaten Purwakarta.

Kegiatan berlangsung dua tahap. Gelombang pertama diselenggarakan mulai tanggal 31 Mei – 6 Juni, gelombang kedua diselenggarakan 7 – 12 juni 2021 bertempat di Balé Pancaniti Munjuljaya.

PGRI Tingkatkan Kompetensi untuk para Guru

“PGRI akan terus berupaya meningkatkan kompetensi para guru termasuk guru honorer sebagai upaya menyiapakan pembelajaran yang bermutu dan bermakna. Kompetensi pembelajaran abad 21 sangat relevan dengan program tatanen di bale atikan yang berorientasi pada peserta didik,” jelas Purwanto.

Dalam program Tatanen di Bale Atikan tim pengembang dari dinas pendidikan sudah berhasil merumuskan kemampuan berfikir yang dikenal dengan sistem berfikir Pancaniti (Niti Harti, Niti Surti, Niti Bukti Niti Bakti dan Niti Sajati).

“Pancaniti ini berbanding lurus dengan kebijakan Kemendikbud yang dikenal dengan HOTS tersebut,” tambahnya lagi.

Jadi, kedepannya para peserta ini dapat menstransfer pengetahuan mereka setelah mengikuti acara pelatihan untuk pelatih yang dalam rekruitmennya sangat ketat tersebut.

“Dengan sistem berfikir Pancaniti (Niti Harti, Niti Surti, Niti Bukti Niti Bakti dan Niti Sajati), para peserta akan berfikir lebih tinggi untuk menerapkan apa yang sudah didapatkannya, karena hal itu merupakan tuntutan kompetensi dalam program tatanen di bale atikan,” tutup Purwanto, mengakhiri pembicaraan.

Sebagaimana diketahui di Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta sedang gencar menanamkan pendidikan karakter, melalui program tatanen di bale atikan.

Program itu bermaksud menyiapkan peserta didik yang mampu mengenali dirinya, mengenali sesamanya dan mengenali lingkungan alamnya.

Program yang berorientasi pada penyadaran bagaimana manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang harus saling hidup dan menghidupi bukan mengeksploitasi dan merusak satu sama lain.

Sebuah pola penyadaran yang dibangun untuk membangun peradaban luhur dalam menyelamatkan Indonesia dari kerusakan lingkungan akibat ulah manusia. (Adw/pojokjabar)

Terbaru

Scroll to Top